Hello!

Klik salah satu perwakilan kami di bawah untuk mengobrol di WhatsApp atau mengirim email kepada kami marketing.mugapp@gmail.com

Halo! Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda?
× Apa yang bisa saya bantu?

Tradisi Tea Pai Dalam Rangkaian Pernikahan Adat Tionghoa


Prosesi Tea Pai dalam rangkaian pernikahan adat Tionghoa (Chinese Wedding).

Tea Pai merupakan salah satu rangkaian acara yang sering diadakan dalam pernikahan adat Tionghoa (chinese wedding) untuk menghormati orang yang lebih tua. Dalam beberapa kesempatan, tradisi penyuguhan teh di beberapa daerah sangatlah berbeda karena bisa tergantung dari kebiasaan  suku dan adat tradisi masing-masing.

Umumnya prosesi Tea Pai dilangsungkan pada pagi atau siang hari sebelum prosesi pemberkatan pernikahan

di tempat ibadah; karena jika dilangsungkan pada malam hari, prosesi ini akan terkesan “dipaksakan” atau bersifat “tidak penting”; atau hanya sekedar upacara seremonial belaka, sebagai ajang serah terima angpao, atau sebagai ajang foto.

Padahal, dalam prosesi Tea Pai ini tersimpan doa dan harapan orang tua agar kelak anak-anaknya bahagia!

Acara Tea Pai (Kong Cha; biasanya juga disebut morning ceremony) biasanya diikuti oleh keluarga kedua mempelai yang sudah menikah, seperti orang tua, paman/bibi, saudara kandung, sepupu dan keponakan (yang dituakan) atau setidaknya yang sudah pernah menikah; meski karena pasangannya sudah bercerai (menjadi janda/duda), meninggal atau sakit (sampai tidak bisa ikut acaranya; jadi yang bisa ikut, duduk sendirian).

Kakak-kakak dari kedua keluarga mempelai yang belum menikah tidak diperbolehkan untuk mengikuti acara Tea Pai ini. Hal ini juga berlaku sama jika ada adik-adik dari keluarga mempelai yang sudah menikah, juga tidak diperbolehkan mengikuti prosesi Tea Pai.

Dalam prosesi Tea Pai ini, sebagai urutan pertama, mempelai mempersilahkan orang yang lebih tua untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Setelah duduk, berikan penghormatan dengan cara membungkukkan badan sambil mengepalkan kedua belah tangan. Perlu di ingat, khusus untuk orang tua (papa mama) dan kakek nenek (apabila ada) sebaiknya di soja atau kui (berlutut).

Mungkin pada agama tertentu yang melarang umatnya untuk berlutut atau menyembah, dapat saja menggunakan cara berdiri sambil sedikit membungkuk badan, tapi kesan penghormatan kepada orang tua jauh berkurang, karena status/derajatnya seperti disamakan dengan paman/bibi, kakak dan saudara-saudara lainnya.

Selanjutnya, seseorang (yang telah ditunjuk sebelumnya; pengiring pengantin) membawakan nampan yang berisi dua buah cangkir kecil berisi teh kepada mempelai wanita, jika keluarga yang sedang dilayani adalah keluarga dari pihak wanita.

Kemudian barulah mempelai pria mengambil satu persatu cangkir dari nampan tersebut dan diberikan kepada keluarga sembari menyebutkan status orang tersebut, misalnya : Papa, Mama, dan seterusnya. Sebaliknya apabila yang dilayani adalah keluarga mempelai pria, maka yang menyuguhkan cangkir tersebut adalah mempelai wanita.


Selain itu, pada umumnya untuk posisi duduk, nenek, ibu, tante ada di kanan; sedangkan kakek, papa, paman di kiri. Hal ini sesuai prinsip “Nan Zuo, Ni You”, 男左女右 (Pria di kiri, Wanita di kanan). Hal inipun seharusnya berlaku sama pada posisi berdiri mempelai pria (berada di kiri) dan mempelai wanita (berada di kanan).

Tapi, fakta di lapangan justru banyak yg dibolak-balik, tidak lagi mengindahkan hal tersebut. Banyak weeding organizer di Indonesia yg bingung dan tidak paham mengenai hal-hal mendasar, seperti posisi berdiri/duduk mempelai dan keluarganya; bahkan termasuk yg mau nikahnya juga 🙂

Mereka mungkin bingung dengan dunia barat, yang menjunjung kebiasaan “ladies first”.

Setelah keluarga yang dilayani selesai meminum teh yang diberikan, mempelai pria mengambil kembali cangkir tersebut satu persatu. Sebagai ucapan terima kasih keluarga terhadap pelayanan yang diberikan oleh kedua mempelai, biasanya keluarga memberikan bingkisan yang berupa uang di dalam angpao merah ataupun perhiasan.

Kalau keluarga yang dilayani memberikan hadiah angpao, maka dapat langsung ditaruh di nampan atau di kantongi oleh mempelai pria, sedangkan apabila hadiah berupa kalung, cincin atau perhiasan sejenisnya, maka nampan tersebut dapat dikembalikan kepada orang yang telah ditunjuk sebelumnya lalu keluarga akan segera memasangkan perhiasan tersebut kepada mempelai.


Terkadang pada adat-adat tertentu untuk acara tea pai ini, pengantin wanita biasanya memberikan satu set handuk (handuk badan dan handuk muka) kepada orang-orang yang telah disuguhkan teh sebagai ucapan terima kasih.

Ini juga realtif (bisa ada atau tidak) dan sangat bergantung pada persiapan kesepakatan acara sebelumnya. Setelah selesai, anggota keluarga yang disuguhkan teh kembali di kursinya, dan kedua mempelai memberikan salam penghormatan kembali seperti diawal acara.

Jadi selain anggota keluarga inti, biasanya ‘hadiah’ pernikahan dapat diberikan pada waktu menulis nama di daftar hadir pada saat waktu pernikahannnya, memberikan secara langsung pada saat akan jabat tangan dengan mempelainya, atau bisa memberikan pada saat proses Tea Pai, tapi sebelum/sesudah prosesi acaranya berlangsung.

Mengenai hadiah/kado pernikahan, orang-orang pada zaman dahulu biasanya memberikan kain mahal, arak (anggur) pernikahan, peralatan rumah tangga, bantal tidur, dan sebagainya. Lalu lama kelamaan berkembang, hingga di era sekarang rata-rata para tamu undangan biasanya hanya memberikan Angpao sebagai sebuah cara yang simple.

Menarik memang, karena tradisi memberikan Angpao pernikahan ini juga diadopsi oleh masyarakat non Tionghoa pada pesta pernikahan mereka.

Namun souvenir dalam acara Tea Pai juga bisa menggunakan Teko Susun. Sesuai dengan kegunaannya, Teko Susun mewakilkan maksud dari acara Tea Pai itu sendiri.

Teko Susun Gajah

Semoga Anda bersama pasangan berbahagia hingga hari tua, sampai rambut memutih bersama! 头偕老 (báitóu xiélǎo)!

source: 
www.tionghoa.info

More info tentang pemesanan Teko Susun dan Souvenir Mug lainnya bisa kalian dapatkan di:
WA/Telepon : 081281363068 (Irsyad)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages